PancaMerdeka.com - Perdebatan mengenai tempat kelahiran Presiden pertama RI Soekarno kembali menguat setelah Pemerintah Kota Surabaya menerbitkan dan menyebarluaskan buku Bung Karno: Aku Arek Suroboyo. Buku hasil riset itu menyimpulkan Bung Karno lahir di Surabaya, sementara kalangan pegiat sejarah di Ploso, Jombang, mengajukan arsip serta kajian tandingan yang mengarah pada Ploso.
Perdebatan tersebut kini tidak lagi sebatas diskusi sejarah. Rencana memasukkan hasil riset versi Surabaya ke pembelajaran sekolah membuat pengujian sumber sejarah ikut masuk ke ruang publik yang lebih luas.
Surabaya Menyusun Argumen Lewat Arsip dan Autobiografi
Pemerintah Kota Surabaya berencana memperluas penyebaran buku Bung Karno: Aku Arek Suroboyo hingga tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.
Buku terbitan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya itu ditulis Purnawan Basundoro, Samidi, Yayan Indrayana, dan Kukuh Yudha Karnanta.
Tim penulis menyebut penelitian dilakukan melalui penelusuran arsip di dalam maupun luar negeri untuk memperkuat narasi perjalanan hidup Soekarno di Surabaya.
"Di dalam buku otobiografi beliau yang ditulis oleh Cindy Adams, beliau dengan jelas menyebutkan bahwa lahir di Surabaya," kata Guru Besar Sejarah Perkotaan Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro, pada 25 Juni 2026.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan buku tersebut juga ditujukan untuk memperkenalkan nilai perjuangan Bung Karno kepada generasi muda.
"Dengan buku ini kita ingin menegaskan bahwa Soekarno lahir di Surabaya," ujar Eri pada 25 Juni 2026.

Ploso Mengajukan Dokumen dan Riwayat Lokal
Narasi Surabaya tidak berdiri tanpa respons. Di Ploso, Jombang, pegiat sejarah dan Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Jombang masih mendorong pengakuan situs kelahiran Bung Karno sebagai cagar budaya.
Pegiat sejarah Binhad Nurrohmat mengkritik sejumlah bagian dalam buku versi Surabaya melalui keterangan tertulis kepada Samudrafakta pada Jumat, 26 Juni 2026.
Binhad juga menulis buku Titik Nol Soekarno—Ploso 1902: Awal Riwayat Bapak Bangsa Indonesia yang menyusun argumen berbeda.
Riset tersebut disebut dibangun melalui:
- Observasi lapangan
- Penelusuran arsip
- Kajian literatur
- Catatan keluarga
- Jejak pendidikan dan sejarah lokal
Binhad menilai pembacaan dokumen kolonial perlu ditempatkan sesuai konteks zamannya.
Ia menyoroti dokumen mutasi Raden Soekemi tertanggal 28 Desember 1901 yang mencantumkan penugasan di School der 2de Klasse te Ploso (Soerabaja).
Menurutnya, istilah "Soerabaja" pada masa kolonial merujuk pada wilayah Keresidenan Surabaya, bukan Kota Surabaya seperti batas administratif modern.
Perbandingan Dasar Argumen Surabaya dan Ploso
| Aspek | Versi Surabaya | Versi Ploso |
|---|---|---|
| Sumber utama | Autobiografi Bung Karno dan penelusuran arsip | Dokumen kolonial, catatan keluarga, sejarah lokal |
| Metode | Riset arsip dalam dan luar negeri | Observasi lapangan dan kajian literatur |
| Fokus argumen | Penegasan Bung Karno lahir di Surabaya | Penafsiran lokasi administratif era kolonial |
| Tujuan lanjutan | Materi pendidikan sejarah | Penguatan status situs cagar budaya |
Perdebatan mengenai tempat lahir Bung Karno tidak sekadar soal titik geografis. Yang diuji sesungguhnya adalah cara membaca sejarah.
Dokumen lama sering memakai batas wilayah yang berbeda dengan administrasi saat ini. Nama wilayah dalam arsip kolonial dapat merujuk pada keresidenan, kabupaten, atau kota dengan cakupan yang berubah dari waktu ke waktu.
Perdebatan tentang kelahiran Bung Karno tampaknya belum berhenti pada satu buku atau satu dokumen. Arsip masih berbicara, dan sejarah terus membuka ruang bagi pembacaan yang lebih mendalam.