Nasional

Latsarmil Kopdes Disorot Setelah Tiga Peserta Meninggal, Apa Sebenarnya Materinya?

Pembukaan Diklat pelatihan dasar militer (Latsarmil) SPPI KDKMP-KNMP Tahun 2026 resmi dibuka di Pusdikarhanud melalui upacara di Lapangan Sudirman, Batu, Jawa Timur, Rabu (17/6/2026)
Pembukaan Diklat pelatihan dasar militer (Latsarmil) SPPI KDKMP-KNMP Tahun 2026 resmi dibuka di Pusdikarhanud melalui upacara di Lapangan Sudirman, Batu, Jawa Timur, Rabu (17/6/2026)

PancaMerdeka.com - Program latihan dasar kemiliteran (Latsarmil) untuk calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) dan Kampung Nelayan Merah Putih menjadi perhatian setelah tiga peserta dilaporkan meninggal dunia selama proses pendidikan. Di tengah sorotan itu, pemerintah menegaskan pelatihan tidak hanya berisi latihan fisik dan kedisiplinan, tetapi juga mencakup pembekalan kemampuan manajerial.

Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan yang lebih luas. Apa sebenarnya isi pelatihan Latsarmil Kopdes Merah Putih, dan bagaimana pola pendidikan yang dijalankan terhadap para calon pengelola koperasi tersebut?

Pelatihan Dibagi Dua Tahap

Komandan Batalyon Latihan SPPI KDKMP dan KNMP di Brigif 1 Marinir, Letkol (Mar) Agus Mutaqin, menjelaskan calon manajer Koperasi Desa dan Kampung Nelayan Merah Putih menjalani dua tahapan pendidikan.

  • Latihan dasar militer selama 30 hari
  • Pelatihan manajerial selama 15 hari

Materi manajerial disebut akan melibatkan narasumber sipil dari kementerian dan instansi terkait.

"Materi dari Dinas Pertanian atau dari Kementerian Koperasi yang akan mengakomodir selama dua minggu. Ada materi manajerial yang akan diberikan oleh narasumber sipil yang memang berkualitas dan punya kapabilitas," ujar Agus di Brigif 1 Marinir Cilandak, Kamis, 25 Juni 2026.

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan pelatihan kompetensi tetap menjadi bagian utama program.

"Loh itu kan bagian dari proses pelatihannya ya. Nanti kan kalau mengenai kompetensinya tetap ada juga pelatihan," kata Prasetyo Hadi di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat, 26 Juni 2026.

Apa Saja Materi Latsarmil Kopdes?

Selama fase latihan dasar militer, peserta mendapatkan pembekalan yang lebih banyak diarahkan pada pembentukan disiplin dan kebersamaan.

Beberapa materi yang disebutkan dalam program meliputi:

  • Apel pagi
  • Peraturan baris-berbaris (PBB)
  • Pembentukan kekompakan dan solidaritas
  • Latihan dasar kemiliteran
  • Latihan menembak pada pekan ketiga

"Jadi mereka punya dasar-dasar militer yang sekiranya bisa buat bekal dalam menuju penugasan berikutnya," ujar Agus.

Sistem Hukuman dan Reward Ikut Diterapkan

Selain materi pelatihan, sistem disiplin juga menjadi bagian dari program pendidikan.

Peserta yang terlambat mengikuti kegiatan atau melanggar aturan dapat menerima hukuman fisik ringan yang disesuaikan dengan kondisi peserta.

"Contoh saat apel pagi, mereka terlambat mungkin karena ketiduran dan sebagainya, kita berikan hukuman push up 10 atau 15 kali," kata Agus.

Pelatih juga menerapkan penghargaan bagi peserta yang menunjukkan prestasi selama pendidikan.

Skema tersebut disebut bertujuan menjaga motivasi dan semangat peserta selama menjalani pelatihan.

Penanganan Peserta dengan Riwayat Kesehatan

Pihak pelatih menyebut peserta dengan riwayat penyakit kronis atau masalah kesehatan tertentu dipisahkan dari aktivitas fisik yang berat.

Data kesehatan peserta diperoleh dari hasil pemeriksaan sebelum pendidikan dimulai.

"Yang memiliki riwayat kronis atau sakit berat kita pisahkan sampai dengan tingkat peleton dan kompi. Supaya kegiatan-kegiatan di lapangan yang berkaitan dengan fisik tidak kita ikutkan," ujar Agus.

Peserta dengan kondisi kesehatan tertentu diarahkan mengikuti materi di dalam kelas.

Perdebatan Tidak Lagi Hanya Soal Disiplin

Kasus meninggalnya tiga peserta membuat perhatian publik tidak hanya tertuju pada pelaksanaan latihan fisik, tetapi juga pada desain program secara keseluruhan.

Di satu sisi, pemerintah menilai disiplin, solidaritas, dan pembentukan karakter penting untuk mendukung pengelolaan koperasi di lapangan.

Di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai keseimbangan antara pelatihan semi-militer dan kompetensi inti seorang pengelola koperasi seperti manajemen usaha, pengelolaan keuangan, hingga kepemimpinan organisasi.

Diskusi tersebut kini berkembang menjadi evaluasi yang lebih luas, yakni bagaimana model pengembangan sumber daya manusia dirancang agar tujuan pembentukan karakter dan kompetensi profesional dapat berjalan beriringan.