PancaMerdeka.com - Organisasi Jam'iyyah Kautsaran Putri Haajarulloh Shiddiqiyyah (JKPHS) menggelar agenda tahunan Shillaturochmi dan Tasyakkuran Tahun Baru Hijriyyah (TTBH) ke-24 Tahun 1448 Hijriah di Gedung Serbaguna Dewi Sri, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Minggu (12/7/2026). Kegiatan ini dihadiri warga Shiddiqiyyah dari berbagai daerah di Indonesia serta perwakilan dari Malaysia sebagai ajang mempererat silaturahmi, memperkuat nilai syukur, dan meneguhkan semangat kebangsaan.
TTBH menjadi salah satu agenda nasional yang rutin diselenggarakan JKPHS setiap Tahun Baru Hijriah. Selain sebagai ungkapan rasa syukur, kegiatan ini menjadi ruang memperkuat persaudaraan warga Shiddiqiyyah sekaligus menyampaikan nilai-nilai dakwah yang menekankan kedamaian, persatuan, dan kecintaan terhadap Tanah Air.
JKPHS Dorong Spirit Syukur untuk Indonesia yang Aman
Dalam sambutannya, Pengurus Organisasi Shiddiqiyyah (ORSHID), Joko Herwanto, menyampaikan bahwa JKPHS terus mengamalkan doa Nabi Ibrahim sebagai ikhtiar mendoakan bangsa dan negara agar Indonesia menjadi negeri yang aman, damai, dan penuh keberkahan.
"Dalam mencapai negara baldatun ṭhoyyibatun wa robbun ghofur, negara yang aman diawali dengan menjadi hamba yang pandai bersyukur. Beginilah Sang Guru memberikan dawuhnya, Shiddiqiyyah fokus pada ibadah syukur, tidak berafiliasi dengan kepentingan politik dan berkemandirian non proposal."
Menurutnya, semangat tersebut menjadi landasan perjuangan warga Shiddiqiyyah dalam menjalankan kegiatan sosial, spiritual, dan kemasyarakatan tanpa bergantung pada kepentingan politik maupun pengajuan proposal pendanaan.
Organisasi Terus Berkembang hingga Luar Negeri
Perkembangan JKPHS menunjukkan penguatan organisasi dari tahun ke tahun. Saat ini JKPHS memiliki 117 cabang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, termasuk beberapa cabang di luar negeri.
Selain itu, struktur organisasi diperkuat oleh 225 anak cabang, 95 ranting, dan 11 anak ranting. Jaringan tersebut menjadi fondasi pelaksanaan berbagai program sosial, kemanusiaan, dan dakwah yang dijalankan organisasi.
Pada penyelenggaraan TTBH tahun ini, persiapan acara melibatkan cabang JKPHS dari Grobogan, Pati, Demak, Blora, dan Rembang sebagai panitia pelaksana.
Antusiasme Warga Shiddiqiyyah Warnai TTBH 1448 H
Tingginya antusiasme terlihat dari kehadiran warga Shiddiqiyyah yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran perwakilan Malaysia juga menambah nuansa kebersamaan dalam kegiatan tersebut.
Acara turut dihadiri Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu'thi, Ibu Nyai Shofwatul Ummah, serta jajaran Organisasi Shiddiqiyyah tingkat pusat dan daerah.
Sejumlah tamu undangan dari unsur pemerintah dan masyarakat juga hadir, di antaranya perwakilan Gubernur Jawa Tengah Gunawan Sudarsono, S.E., S.H., M.Si., Kepolisian Utama Tingkat I Divkum Polri Langgeng Purnomo, perwakilan Polda Jawa Tengah, Disporapar Jawa Tengah, Dandim Grobogan, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah, serta tokoh Nahdlatul Ulama K.H. Uki Marzuki Sholihin.
Tema Kebangsaan Jadi Penguat Makna Tahun Baru Hijriah
TTBH tahun ini mengangkat tema "Gemolongnya Api Jati Diri Bangsa Indonesia Dari Bumi Purwodadi". Tema tersebut menegaskan bahwa peringatan Tahun Baru Hijriah tidak hanya dimaknai sebagai momentum spiritual, tetapi juga sebagai penguatan karakter kebangsaan dan rasa cinta terhadap Indonesia.
Melalui tema itu, JKPHS ingin mendorong tumbuhnya semangat persatuan, gotong royong, dan kepedulian sosial yang berangkat dari nilai-nilai keagamaan. Pendekatan ini menjadi bagian dari dakwah organisasi yang mengedepankan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
Ketua Umum JKPHS, Pujiarti, mengatakan kegiatan Shillaturochmi merupakan wadah syiar Thoriqoh Shiddiqiyyah sekaligus momentum mempererat persaudaraan antarwarga.
"Acara ini sebagai syiar kita untuk mensyiarkan ajaran thoriqoh shiddiqiyyah di bumi Purwodadi. Dan suasana hari ini sangat semarak, itu menandakan kalau acara shillaturrochmi itu adalah medan magnet Shiddiqiyyah yang tak akan padam di dalam perjuangan fii sabilillah, terutama Laa ilaha illalloh."
Penyelenggaraan TTBH ke-24 menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial, menjaga semangat kebersamaan, dan menumbuhkan nilai kebangsaan yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.