AkalMerdeka.id - Warga Padukuhan Padem, Girikarto, Panggang, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), masih menghadapi krisis air bersih di tengah musim kemarau. Pada Minggu (27/9/2026), warga kembali menerima bantuan air, sementara sebagian keluarga mengaku harus membeli air berkali-kali untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Krisis Air Bersih Membuat Warga Harus Membeli Tangki
Sudaryanto (40), warga Padem, mengatakan keluarganya telah membeli sekitar enam hingga tujuh tangki air bersih selama musim kemarau. Satu tangki berkapasitas 5.000 liter dibanderol Rp150.000-Rp170.000 dan biasanya hanya bertahan sekitar dua hingga tiga pekan.
Pengeluaran tersebut menjadi kebutuhan rutin karena warga hampir tidak memiliki sumber air bersih yang dapat diandalkan ketika kemarau berlangsung. Kondisi itu membuat pemakaian air harus ditekan agar persediaan tidak cepat habis.
"Untuk menghemat air bersih terpaksa mandi sekali, paling hanya sore hari," kata Sudaryanto.
Pengalaman serupa dialami Wastimin (62). Untuk memenuhi kebutuhan enam anggota keluarganya, ia mengaku sudah membeli air bersih sebanyak 17 tangki selama musim kemarau.
"Gak bisa hemat air, tidak memiliki sumur, kalau kemarau pasti beli. Saat ini total sudah 17 kali," ujarnya.
Air PDAM Tak Selalu Mengalir ke Permukiman Padem
Persoalan krisis air bersih di Padem tidak hanya berkaitan dengan ketiadaan sumur. Warga yang mengandalkan jaringan PDAM juga menghadapi persoalan debit air yang kecil dan aliran yang kerap tidak sampai ke permukiman di wilayah ketinggian.
Galih (35), warga setempat, mengatakan kondisi tersebut membuat sebagian warga memilih mencabut meteran PDAM. Bagi warga, jaringan air yang tidak mengalir secara memadai sulit diandalkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Dukuh Padem, Sugiyanto, mengatakan warga sebenarnya telah berupaya mencari sumber air secara mandiri. Salah satunya melalui pengeboran hingga ratusan meter, tetapi upaya tersebut belum berhasil menemukan sumber air bersih.
"Punya saya juga suruh memutus saja, terakhir tagihan Rp600 ribu. Padahal airnya tidak mengalir," katanya.
Empat RT Mengalami Kekeringan Parah
Di Padukuhan Padem, terdapat empat RT yang mengalami kekeringan parah. Kondisi geografis wilayah perbukitan menjadi salah satu persoalan yang membuat distribusi air tidak mudah menjangkau seluruh permukiman.
Karena itu, warga berharap ada pembangunan reservoir atau penampungan air berskala besar di wilayah perbukitan. Penampungan tersebut diharapkan dapat membantu distribusi air secara lebih merata ketika musim kemarau kembali terjadi.
Sambil menunggu solusi tersebut, bantuan air dari pemerintah dan para donatur menjadi salah satu sumber pasokan yang dapat langsung digunakan warga. Bagi keluarga yang harus membeli tangki secara berkala, bantuan tersebut juga berarti pengurangan pengeluaran untuk kebutuhan air.
Bantuan 60 Tangki Air Bersih Datang ke Padem
Salah satu bantuan datang dari Alumni Fakultas Ekonomi UPN Veteran Yogyakarta 80A. Ketua alumni, Ilham Nur, mengatakan pihaknya menyalurkan 60 tangki air bersih kepada warga Padem.
"Kami menyerahkan 60 tangki air bersih. Mudah-mudahan ini menjadi awal. Ke depannya kami berharap bisa membantu lebih banyak," kata Ilham.
Bantuan tersebut menjadi tambahan pasokan bagi warga yang selama kemarau harus mengatur penggunaan air secara ketat. Sukijah, salah seorang warga, mengatakan keluarganya juga sudah beberapa kali membeli air bersih.
"Lumayan bisa menghemat air bersih, wilayah kami kesulitan air bersih saat musim kemarau. Ini saja sudah beli enam kali," ujarnya.