Petugas gabungan menggerebek sebuah rumah di kawasan Kayu Manis, Matraman, Jakarta Timur, pada Rabu (28/10/2026) dan menemukan 600 ton beras bersubsidi program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dikemas ulang sebagai beras premium. Praktik beras oplosan itu diduga dilakukan untuk meraup keuntungan, dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutnya merampas hak masyarakat kecil.
Rumah tersebut diduga menjadi tempat penampungan sekaligus pengoplosan. Beras yang ditemukan sudah tidak lagi berada dalam kemasan SPHP asli.
Harga eceran beras SPHP ditetapkan Rp 12.500 per kilogram. Dalam praktik yang diduga terjadi di Matraman, beras itu dipasarkan kembali seharga Rp 17.000 per kilogram, sehingga pelaku diperkirakan mengantongi selisih Rp 4.500 untuk setiap kilogram yang terjual.
Amran menyampaikan penilaiannya dalam keterangan video yang diterima Kompas.com pada Jumat (30/10/2026). "Ini mengambil hak orang miskin. Ini tidak manusiawi. Ini semua bungkusannya (beras SPHP) dicopotin," kata Amran.
Beras SPHP adalah beras kualitas medium dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Penyalurannya dilakukan lewat Perum Bulog dan diawasi Badan Pangan Nasional (Bapanas), dengan tujuan menjaga ketersediaan pasokan sekaligus memastikan masyarakat memperoleh beras berharga terjangkau.
Temuan 600 ton itu memunculkan dugaan bahwa beras oplosan sudah berlangsung dan beredar dalam skala jauh lebih besar. Amran menduga jumlah beras yang pernah dioplos mencapai ribuan ton dan melibatkan jaringan pihak lain.
"Ini laporannya. Tadi saya terima 600 ton. Tapi ini yang sekarang. Berarti sudah ribuan ton. Operasinya dari tahun berapa kita belum tahu," ujar Amran.
Ia juga menyoroti ironi di balik kasus ini. Menurut dia, Indonesia mampu bertahan ketika dunia menghadapi krisis pangan, tetapi masih ada pihak yang memperlakukan beras negara sebagai ladang keuntungan.
"Untuk beras, mempertahankan pangan di atas. Pada saat kondisi dunia krisis pangan, Indonesia alhamdulillah bisa bertahan. Tetapi ada orang yang masih tidak punya adab, tidak punya perasaan. Beras negara dioplos," tegas Amran.