Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,99% ke level 5.266,13 pada penutupan perdagangan Selasa (27/10/2026), sementara rupiah melemah ke Rp 18.145 per dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan di pasar keuangan Indonesia ini terjadi saat investor menanti keputusan suku bunga The Fed, European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BOJ) pekan ini.
IHSG kehilangan 106,96 poin sepanjang hari. Indeks sempat menyentuh level tertinggi harian 5.418,14, tetapi tekanan jual menguat pada sesi siang, terutama setelah pukul 14.00 WIB.
Level terendah IHSG tercatat di 5.182,37. Menjelang penutupan, indeks memangkas sebagian koreksi tersebut.
Volume perdagangan mencapai 36,4 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 17,9 triliun. Hanya 100 saham yang menguat, sedangkan 611 saham melemah dan 82 saham stagnan. Investor asing mencatat jual bersih (net sell) Rp 668,26 miliar.
Sektor infrastruktur menjadi pemberat terbesar dengan penurunan 6,1%. Sektor material dasar terkoreksi 3,7%, disusul sektor teknologi yang turun 2,9%.
Saham-saham yang menekan indeks antara lain PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT).
Dari luar negeri, investor mencermati perkembangan konflik Timur Tengah. Di dalam negeri, perhatian tertuju pada rencana reformasi pasar modal oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), yang mencakup penguatan pengawasan transaksi mencurigakan dan evaluasi mekanisme pengumuman Unusual Market Activity (UMA), yaitu penanda aktivitas perdagangan yang tidak biasa. BEI juga menyiapkan perluasan komite penilai saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC).
Saham kategori HSC rencananya dikecualikan dari penghitungan IHSG mulai 2 November 2026. Rangkaian perubahan itu diarahkan untuk memperkuat transparansi dan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Rupiah juga belum lepas dari tekanan. Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup melemah 0,19% di Rp 18.145 per dolar AS, melanjutkan penurunan sehari sebelumnya, ketika rupiah berakhir di Rp 18.110 pada Senin (26/10/2026).
Posisi tersebut tinggal 25 poin dari rekor penutupan terlemah sepanjang masa di Rp 18.170 per dolar AS, yang tercatat pada 8 Juni 2026.
Rupiah sudah berada di zona merah sejak pembukaan, melemah 0,06% ke Rp 18.120. Pergerakan harian berada di rentang Rp 18.120 hingga Rp 18.155, dan rupiah mengakhiri perdagangan 10 poin lebih kuat dari titik terlemahnya.
Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, menguat 0,16% ke posisi 102,122 pada pukul 15.00 WIB. Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stagnan di 7,454%.
Pekan terakhir Oktober memang padat agenda bank sentral. Para pembuat kebijakan memutuskan arah suku bunga ketika tekanan inflasi, kenaikan harga energi, dan ketidakpastian prospek pertumbuhan masih membayangi.
Proyeksi Bloomberg Economics menyebut The Fed dan ECB akan mempertahankan suku bunga. BOJ juga diperkirakan menahan suku bunga setelah menaikkannya pada September.
Menahan suku bunga belum tentu berarti pengetatan moneter berakhir. Pasar akan menyimak pernyataan pejabat bank sentral untuk menakar seberapa besar risiko inflasi memengaruhi kebijakan berikutnya, terutama menjelang Desember.
BOJ diperkirakan kembali menaikkan suku bunga pada Desember tahun ini, lalu berlanjut pada Maret dan Juli tahun depan.