Ragam

Korban Gempa Palu Pulang Setelah 8 Tahun Dikabarkan Meninggal

Jumaidin, pemuda yang dinyatakan meninggal akibat bencana Palu 2018, tiba-tiba kembali ke kampung halamannya.
Jumaidin, pemuda yang dinyatakan meninggal akibat bencana Palu 2018, tiba-tiba kembali ke kampung halamannya.

Jumaidin (26), korban gempa Palu 2018, pulang ke rumah keluarganya di Desa Bongka Makmur, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, setelah delapan tahun dikabarkan meninggal dunia. Ingatannya tentang kampung halaman mulai kembali saat ia melihat video jembatan di kawasan Bongka di TikTok. Kakaknya, Mahania (33), menyampaikan hal itu kepada Kompas.com, Kamis (22/10/2026).

Mahania mengaku tak pernah menyangka adiknya masih hidup. Keluarga terkejut sekaligus haru. Mereka sempat ragu pada pria yang tiba-tiba datang ke rumah, sampai wajah dan giginya meyakinkan mereka.

"Awalnya kami sempat tidak percaya, tetapi setelah melihat giginya, kami yakin bahwa memang benar dia adik kami," kata Mahania.

"Setelah sampai di rumah, orang pertama yang dia cari adalah bapak kami. Padahal, bapak kami sudah meninggal dunia sekitar tiga tahun lalu," tutur Mahania. Ingatan Jumaidin, menurut dia, mulai pulih setelah ia diajak berkeliling ke rumah kakak-kakaknya.

Saat bencana melanda Palu pada 2018, Jumaidin sudah lulus sekolah dan bekerja di sebuah perusahaan percetakan galon. Berdasarkan ceritanya, ia tertimpa reruntuhan ketika gempa terjadi. Ayahnya berangkat ke Palu keesokan hari untuk mencarinya, tetapi Jumaidin tak ditemukan.

Tidak lama kemudian, keluarga menerima kabar bahwa Jumaidin telah meninggal. Akta kematian atas namanya terbit, keluarga menggelar tahlilan 40 hari, dan pakaian yang ia tinggalkan disumbangkan kepada orang lain.

Mahania dan ayahnya sempat berfirasat Jumaidin masih hidup. Ia sulit menerima kabar kematian itu karena tak pernah melihat jenazah adiknya. Sang ayah meninggal tanpa pernah mendapat kepastian.

Versi Jumaidin sendiri, yang diceritakan ulang Mahania, dimulai dari seorang teman yang menolongnya setelah ia terluka parah. Ia dibawa ke Morowali dan tidak sadarkan diri sekitar satu bulan. Begitu siuman, ia tak tahu identitas maupun alamat rumahnya.

Orang yang menolongnya kemudian mengurus dokumen kependudukan. Jumaidin dimasukkan ke dalam kartu keluarga dan dibuatkan KTP. Ia bekerja di Morowali, lalu pada 2023 menjadi pekerja di tempat cuci mobil di Palu, sebelum pindah ke perusahaan lain yang juga berlokasi di Palu.

Bekas luka akibat bencana delapan tahun lalu masih terlihat di tubuhnya. Luka terparah ada di kepala dan, menurut Mahania, berkaitan dengan gangguan ingatan yang ia alami selama beberapa waktu. Jumaidin belum bisa mengingat semua kenangan masa lalu, tetapi keluarga bersyukur ia kembali dalam keadaan sehat.

Titik baliknya datang lewat media sosial. Gambar dan video jembatan di daerah Bongka yang beredar di TikTok terasa familier baginya. Ia lalu mencari informasi di internet untuk memastikan daerah yang mulai muncul dalam memorinya.

Ingatan itu tidak langsung utuh. Jumaidin memulihkannya perlahan, hingga akhirnya ia mengingat ayahnya dan identitas dirinya sendiri.

Seorang temannya yang bekerja di PLN membantu mencari lokasi kampung halaman itu dan mengantarnya ke sekitar Bongka. Dari sana, Jumaidin naik ojek sampai ke Desa Bongka Makmur, tempat ia bertemu kembali dengan keluarga yang selama ini mengira dirinya telah tiada.

Keluarga sebenarnya berharap Jumaidin bisa tinggal bersama mereka, tetapi ia memilih tetap di Palu. Mahania menyebut adiknya sudah terbiasa dengan kehidupan di kota itu, punya pekerjaan, dan punya banyak teman yang menemaninya selama ini. Jumaidin berjanji pulang ke kampung halaman setiap ada waktu libur.

Keluarga berencana mempertemukan Jumaidin dengan kerabat lain yang belum bertemu langsung sejak ia pulang, termasuk keluarga di Desa Pendolo, Kabupaten Poso.