Tim gabungan Bareskrim Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai membongkar laboratorium narkoba Pidie, Aceh, pada Kamis (22/10/2026) dengan barang bukti sabu seberat 1,2 ton. Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto memaparkannya dalam konferensi pers di Pidie, Jumat (23/10/2026). Lokasi yang disebut sebagai clandestine lab terbesar di Indonesia itu diduga terhubung dengan jaringan internasional asal China, Malaysia, dan Indonesia.
Clandestine lab atau laboratorium gelap adalah tempat produksi narkotika yang dijalankan secara tersembunyi. Menurut hasil penyelidikan awal, laboratorium narkoba Pidie ini memanfaatkan dua ruko yang disulap menjadi pabrik sabu.
Metamfetamin Cair Lewat Laos dan Thailand
Pemantauan terhadap jaringan ini berlangsung berbulan-bulan sejak Februari 2026. Suyudi menyebut kelompok asal Tiongkok tersebut mengangkut ratusan kilogram metamfetamin cair, bahan baku sabu, dari Myanmar utara.
"Dari Myanmar utara melintas ke Laos dan Thailand sebelum tiba di tujuan akhir, yaitu Banda Aceh, Indonesia, pada 18 Mei 2026," kata Suyudi.
Dua peracik berkewarganegaraan China, berinisial LJ (45) dan XM (42), menyusul masuk ke Banda Aceh pada 24 Mei 2026 setelah transit di Malaysia. Keduanya menginap 10 hari di sebuah hotel, lalu kembali ke Malaysia.
Pengiriman tahap kedua dimulai akhir Juli 2026 lewat rute yang sama, dengan jumlah hampir 1 ton. "Cairan disamarkan dalam kaleng hijau bermerek Itanpro untuk mengelabui petugas," ujarnya.
Kronologi Laboratorium Narkoba Pidie Mulai Beroperasi
LJ dan XM bertolak dari Kunming, China, dan tiba di Kuala Lumpur pada 15 Oktober 2026 pukul 14.40 waktu setempat. Di sana mereka bertemu tersangka berinisial B, warga negara Indonesia, dan dibantu tersangka MN soal penginapan.
B terbang ke Banda Aceh pada 16 Oktober, lalu menuju Samalanga, Kabupaten Bireuen. Sehari kemudian, Sabtu (17/10/2026), LJ, XM, dan MN mendarat di Banda Aceh dan dijemput tersangka RI dengan mobil Innova Reborn hitam. Mobil itu tiba di sebuah ruko di Jenep pukul 22.26 WIB.
Pada 18 Oktober, LJ melapor kepada atasannya di China berinisial LX bahwa pembuatan sabu dimulai. Sehari berselang, pukul 12.51, rombongan yang datang dengan Fortuner memindahkan koper dan kotak ke Honda Jazz putih, kendaraan penerima logistik.
Penindakan di Lima Lokasi
Tim gabungan berkonsolidasi pada 21 Oktober 2026 dan bergerak keesokan harinya. Informasi bahwa LJ dan XM berada di ruko Jalan Dayah Tanoh, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, diterima pukul 12.19 WIB. Penindakan dimulai pukul 14.40 WIB, bersamaan dengan empat lokasi lain di Bireuen, Aceh Utara, dan Lhokseumawe.
Di dalam ruko, petugas mengamankan LJ, F, MY, AK, dan AY. Barang bukti berupa 20 drum sabu cair dan 500 kilogram sabu kristal, dengan total 1,2 ton.
Hitungan Nilai Barang Bukti
Dari pengungkapan laboratorium narkoba Pidie ini, Suyudi menghitung nilai ekonomi yang digagalkan hampir Rp 2,16 triliun, berdasarkan harga pasar rata-rata Rp 1,8 juta per gram. Dengan asumsi satu gram sabu dikonsumsi lima orang, ia memperkirakan 6 juta orang terhindar dari dampak peredarannya.
Biaya rehabilitasi untuk jumlah itu, dengan asumsi Rp 20 juta per orang selama enam bulan, ia taksir mencapai Rp 120 triliun. Suyudi juga mengapresiasi kerja sama Polri, BNN, dan Bea Cukai. "Angka-angka fantastis tersebut membuktikan bahwa ancaman narkotika sangatlah nyata," tegasnya.
Buron dan Pencucian Uang
Polisi masih memburu lima orang dalam daftar pencarian orang (DPO), yakni pengatur lapangan berinisial Z, ES, J, BR, dan SS. Penyidik juga berkoordinasi dengan NC City, Tiongkok, untuk menangkap pengendali utama berinisial LS.
Enam ponsel yang ditemukan di lokasi akan diperiksa lewat forensik digital, dan penyidik akan menerapkan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU) terhadap jaringan ini, "guna memiskinkan jaringan ini," jelas Suyudi.