pancamerdeka.com - Sejumlah tokoh NU menyerukan islah dan penyederhanaan organisasi setelah konflik elite PBNU mencuat ke ruang publik akibat beredarnya risalah digital berisi tuntutan pemakzulan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf. Mereka menilai dinamika ini perlu ditangani hati-hati karena mencerminkan tantangan tata kelola organisasi besar di era digital.
Mantan Wakil Ketua Umum PBNU, Nusron Wahid, berharap ketegangan bisa mereda cepat. “Polemik PBNU kita berdoa kepada Allah SWT, semoga cepat berlalu,” katanya di Senayan, Senin (24/11/2025).
Dari Jombang, dzurriyyah pendiri NU, KH Hasib Wahab Chasbullah, menekankan pentingnya tabayun. Ia menyebut risalah digital itu tak sesuai kultur organisasi. “Kami prihatin ada informasi yang tidak solid diterima sehingga terjadi risalah demikian. Mestinya ada tabayun,” ujarnya, Ahad malam (23/11/2025).
Gus Hasib juga menilai komunikasi elite tidak cukup terbuka sehingga memunculkan spekulasi. Ia menegaskan perlunya islah. “Sebagai dzurriyyah, insya Allah kami akan musyawarah untuk bisa islahkan,” katanya.
Pengamat NU, Nadirsyah Hosen, menawarkan perspektif struktural. “Kisruh ini membuka betapa rentannya jam’iyyah ketika struktur kepemimpinan melebar tanpa kejelasan garis komando,” tulisnya via Facebook, Senin (24/11/2025).
Ia mengajukan tiga rekomendasi: penyederhanaan pemilihan pucuk pimpinan, kemandirian pendanaan Muktamar, dan pemulihan kultur dasar NU yang sederhana.
Sementara itu, PBNU menutup spekulasi pemakzulan melalui sillaturahmi alim ulama di Jakarta, Ahad (23/11/2025), yang dihadiri lebih dari 50 tokoh. “Semua sepakat, tidak ada pemakzulan, tidak ada pengunduran diri,” tegas Katib Aam PBNU Ahmad Said Asrori.
Agenda islah diperluas demi menjaga stabilitas organisasi menjelang Muktamar. (*)