Bisnis

Sorotan Tajam Dunia, Program MBG dan Kopdes Prabowo Picu Dilema Fiskal

Sorotan Tajam Dunia, Program MBG dan Kopdes Prabowo Picu Dilema Fiskal

pancamerdeka.com — Dua program kemasyarakatan berbiaya jumbo milik Presiden Prabowo Subianto, yakni Makan Bergizi Gratis serta jaringan 80.000 Koperasi Desa Merah Putih, kini tengah berada di bawah sorotan tajam lembaga riset ekonomi dunia pertengahan Mei 2026. Laporan keuangan global menilai kebijakan populis ini memicu tantangan serius bagi ketahanan jangka panjang anggaran negara.

Berdasarkan hitungan kalkulasi ekonomi terbaru, akumulasi pendanaan untuk kedua program prioritas tersebut diestimasikan menelan dana sedikitnya Rp320 triliun pada tahun anggaran berjalan. Besarnya serapan dana yang mencapai 10 persen dari proyeksi pendapatan negara ini memicu kekhawatiran terkait potensi pembengkakan defisit nasional.

Besarnya alokasi untuk program kesejahteraan masyarakat pedesaan tersebut memaksa tim ekonomi Istana berada pada persimpangan jalan yang sulit. Pemerintah kini dihadapkan pada pilihan mendesak untuk melakukan penundaan sejumlah mega proyek infrastruktur, memotong subsidi energi, atau menanggung risiko hukum melampaui batas defisit APBN 3 persen.

“Kebijakan fiskal saat ini memang dituntut untuk lebih ekspansif guna menjaga daya beli masyarakat di tingkat bawah. Sektor riil sangat rentan mengalami perlambatan akibat fluktuasi harga energi global jika tidak dibantu stimulus,” papar Ekonom LPEM FEB Universitas Indonesia Teuku Riefky dalam analisis tertulisnya, Senin (18/5/2026).

Meskipun demikian, data internal kementerian menunjukkan sinyal peringatan dini dari pasar keuangan. Adanya defisit skenario terbaru yang berpotensi menyentuh angka 3,18 persen hingga 4,04 persen dari PDB diproyeksikan dapat menurunkan minat beli para pemegang surat utang negara.

Guna meredam polemik yang berkembang di media internasional, pihak lingkar dalam pemerintahan menegaskan bahwa seluruh program yang diluncurkan telah melalui kajian matang. Keterlibatan unsur komando dalam distribusi logistik pangan ditujukan murni demi efisiensi dan ketepatan sasaran di lapangan.

“Relaksasi batas aman defisit tentu membutuhkan pertimbangan serta perhitungan yang sangat cermat. Angka 3 persen selama ini sudah menjadi pilar utama kredibilitas makroekonomi kita di mata dunia,” tambah Peneliti Senior CSIS Deni Friawan mengingatkan pentingnya kehati-hatian.

Melalui tanggapan awal, Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman menyampaikan bahwa jajaran kabinet selalu diinstruksikan untuk berani mendengarkan kritik konstruktif dari luar. Pemerintah optimis penguatan basis ekonomi sirkular lewat koperasi desa akan mampu mengompensasi tekanan moneter dalam jangka panjang. ***