Bisnis

Stabilitas Nasional Terjaga: Sinergi BI dan Kemenkeu Kawal Rupiah

Stabilitas Nasional Terjaga: Sinergi BI dan Kemenkeu Kawal Rupiah

pancamerdeka.com — Pemerintah Republik Indonesia bersama Bank Indonesia menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang menyentuh level psikologis baru pada Selasa, 12 Mei 2026.

Meskipun tekanan eksternal dari dinamika geopolitik Timur Tengah meningkat, otoritas moneter dan fiskal bersinergi melakukan langkah strategis demi memastikan fundamental ekonomi nasional tetap berdiri kokoh.

Kepercayaan diri ini didasari oleh pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang impresif di angka 5,61 persen serta cadangan devisa yang sangat mencukupi sebesar US$ 148,2 miliar.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memastikan bahwa pihaknya melakukan langkah-langkah luar biasa dengan melakukan intervensi di berbagai pasar keuangan utama dunia demi menjaga rupiah.

Upaya ini mencakup transaksi di pasar domestik maupun offshore untuk memberikan kepastian bagi pelaku usaha bahwa negara hadir sepenuhnya dalam mengendalikan volatilitas mata uang.

"Hong Kong kami intervensi, Singapura kami intervensi, London kami intervensi, New York kami intervensi. Itu namanya bukan business as usual, itu all out," tegas Perry Warjiyo pada Selasa, 12 Mei 2026.

Langkah taktis ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki daya tahan yang tangguh dalam menghadapi guncangan global, sekaligus memberikan ketenangan bagi masyarakat dan dunia usaha.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa APBN 2026 berada dalam posisi aman dan siap memberikan perlindungan melalui instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) mulai besok.

Dukungan fiskal ini bertujuan untuk menjaga imbal hasil obligasi tetap stabil, sehingga biaya pembangunan dan kepentingan masyarakat luas tetap terlindungi dari dampak fluktuasi pasar global.

"APBN 2026 tetap berada dalam posisi aman. Pemerintah memiliki dana yang siap digunakan guna mencegah imbal hasil obligasi tidak melonjak terlalu tinggi," ujar Purbaya pada Selasa, 12 Mei 2026.

Sektor ekspor nasional, seperti komoditas nikel dan CPO, justru berpotensi mendapatkan berkah nilai tambah dari kondisi ini, yang pada gilirannya akan memperkuat neraca perdagangan kita.

Melalui koordinasi erat antara TPIP dan TPID, pemerintah terus memastikan ketersediaan kebutuhan pokok tetap terjaga sehingga daya beli masyarakat tidak terganggu oleh dinamika kurs dunia.

Ketangguhan bangsa Indonesia dalam melewati berbagai krisis di masa lalu menjadi modal psikologis penting bahwa badai global kali ini pun akan mampu dilewati dengan hasil yang gemilang. ***