PancaMerdeka.com — Perjuangan Suwarno, lansia penyandang disabilitas asal Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta, menjadi cermin pentingnya penyempurnaan akurasi data bantuan sosial nasional. Pria berusia 70 tahun tersebut tetap bersemangat menyuarakan keadilan data dalam forum aduan DPRD Kota Yogyakarta pada Kamis (27/8/2026) sore.
Meski hidup sebatang kara dengan uang pensiun Rp900 ribu per bulan, semangat Suwarno untuk mendorong perbaikan pendataan kesejahteraan tidak pernah surut.
Ia berharap evaluasi sistem data dapat memberikan perlindungan hak yang lebih akurat bagi seluruh lansia dan kelompok rentan di Indonesia.
"Monggo silakan mau dinilai berapa, tapi tolong pendataan itu sesuai fakta di lapangan," ujar Suwarno di Yogyakarta, Kamis (27/8/2026).
Harapan Penguatan Perlindungan Sosial Lansia
Mantan pustakawan UII tersebut secara jujur menyampaikan kondisi fisiknya yang hidup dengan keterbatasan serta tempat tinggal yang sangat sederhana. Penghentian bantuan sejak April 2025 menjadi momentum berharga untuk memperkuat verifikasi lapangan agar program pemerintah tepat sasaran.
Dorongan Transparansi Pendataan Berbasis Realita
Langkah Suwarno menyampaikan aspirasi secara terbuka mendapat apresiasi karena membantu pemerintah daerah mengidentifikasi celah dalam sistem pendataan. Integritas dan kejujuran warga dalam mengisi data rumah tangga menjadi modal utama terciptanya tata kelola bantuan sosial yang adil.
"Tahun 2025 dari Januari sampai Maret saya masih dapat PKH dan bantuan sembako," kenang Suwarno pada Kamis (27/8/2026).
Melalui sinergi antara warga dan legislatif, perbaikan validasi data diharapkan mampu memulihkan hak-hak masyarakat miskin secara terukur.
Semangat memperjuangkan kebenaran data ini menjadi inspirasi bagi upaya peningkatan mutu pelayanan publik di seluruh wilayah Nusantara. ***