PancaMerdeka.com - Pertanyaan mengapa suku Jawa tidak punya marga kembali ramai dibicarakan setelah topik lama ini muncul lagi di media sosial. Di balik anggapan yang selama ini beredar, riset dan kajian sejarah menunjukkan jawabannya tidak sesederhana persoalan tradisi, melainkan berkaitan dengan struktur sosial, sistem kekerabatan, hingga sejarah kekuasaan di Jawa.
Selama bertahun-tahun banyak orang menganggap masyarakat Jawa memang sejak awal tidak mengenal marga. Padahal sejumlah penelitian menunjukkan situasinya lebih kompleks. Sebagian masyarakat Jawa memang tidak menggunakan nama keluarga turun-temurun, tetapi kalangan tertentu justru memilikinya.
Mengapa Suku Jawa Tidak Punya Marga?
Pertanyaan tentang mengapa suku Jawa tidak punya marga tidak memiliki satu jawaban tunggal. Sejumlah penjelasan dari peneliti dan akademisi saling melengkapi.
Harto Juwono, dosen sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS), menjelaskan bahwa masyarakat Jawa sejak awal berkembang dengan pola kepemimpinan tunggal melalui kepala keluarga sekaligus kepala kelompok.
Model tersebut berbeda dari sejumlah kelompok masyarakat lain yang menggunakan sistem marga. Dalam sistem itu, hubungan antarkelompok keluarga mempunyai hak dan kewajiban yang lebih kolektif.
Pola semacam ini terlihat pada beberapa masyarakat seperti Batak, Minahasa, dan Ambon yang mempunyai struktur marga kuat hingga sekarang.
Jejak Kerajaan Membentuk Identitas Sosial
Ada faktor lain yang ikut membentuk sistem penamaan masyarakat Jawa, yaitu sejarah kerajaan.
Wilayah Jawa selama berabad-abad memiliki tradisi kerajaan yang kuat. Identitas sosial kemudian lebih banyak terhubung dengan status, jabatan, gelar, dan kedekatan dengan lingkungan keraton.
Antropolog Clifford Geertz dalam penelitian etnografinya yang kemudian diterbitkan dalam The Religion of Java menemukan bahwa mayoritas masyarakat Jawa tidak menggunakan nama keluarga.
Namun temuan tersebut juga memperlihatkan pengecualian penting.
Kalangan priyayi atau ningrat justru memiliki bentuk identitas keluarga turun-temurun. Nama seperti Suryonegoro, Hadinegoro, atau Kusumodiharjo digunakan sebagai penanda status sosial dan garis keturunan.
Artinya, pernyataan bahwa semua orang Jawa tidak mempunyai marga sebenarnya kurang tepat.
Mengapa Marga Tidak Menjadi Kebutuhan Besar?
Beberapa sumber juga menjelaskan faktor yang lebih praktis, yakni urusan ekonomi dan administrasi.
Pada sejumlah masyarakat yang mempertahankan sistem marga, nama keluarga sering dipakai untuk mengatur:
- Pembagian warisan
- Pencatatan kepemilikan tanah
- Hubungan antarkelompok keluarga
- Identitas garis keturunan
Sementara sebagian besar masyarakat Jawa pada masa lampau hidup sebagai petani atau penggarap lahan yang tidak selalu mempunyai aset keluarga besar yang diwariskan secara formal.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan penggunaan marga tidak berkembang sekuat masyarakat lain.
Sistem Kekerabatan Jawa Berjalan Berbeda
Masyarakat Jawa juga mengenal sistem kekerabatan bilateral.
Dalam sistem ini, garis keluarga dihitung dari pihak ayah dan ibu secara bersamaan.
Sebaliknya, banyak masyarakat yang menggunakan marga mengikuti pola patrilineal atau matrilineal, yakni garis keturunan lebih menonjol dari salah satu pihak.
Perbedaan itu membuat penggunaan satu nama keluarga turun-temurun menjadi kurang dominan dalam struktur sosial Jawa.
Fakta yang Sering Terlewat: Jawa Sebenarnya Punya "Marga"
Bagian yang sering hilang dalam diskusi publik adalah fakta bahwa kelompok keraton di Yogyakarta dan Surakarta tetap mempertahankan garis identitas keluarga.
Nama seperti Notonegoro, Suryaningrat, hingga Hamengkubuwono masih menunjukkan kesinambungan garis keturunan.
Yang berbeda, sistem tersebut tidak dipakai secara luas oleh mayoritas masyarakat.
Karena jumlahnya sangat besar, pola penamaan masyarakat Jawa ikut membentuk persepsi internasional tentang Indonesia.
Banyak orang di luar negeri kemudian mengira masyarakat Indonesia secara umum tidak memiliki nama keluarga.
Padahal Indonesia memiliki sistem identitas yang sangat beragam.
Batak, Minahasa, Ambon, dan sejumlah kelompok lain justru mempertahankan sistem marga yang kuat hingga saat ini.
Jadi, pertanyaan tentang suku Jawa tidak punya marga sebenarnya membuka cerita yang lebih luas. Nama bukan hanya identitas pribadi. Di banyak masyarakat, nama juga merekam sejarah, struktur sosial, hingga cara sebuah kelompok memandang hubungan keluarga.