Nasional

Kemerdekaan Ramadan dan Optimisme Rumah Layak Huni

Kemerdekaan Ramadan dan Optimisme Rumah Layak Huni

pancamerdeka.com - Kemerdekaan Ramadan yang diperingati setiap 9 Ramadan oleh jamaah Thoriqoh Shiddiqiyyah tidak berhenti pada refleksi sejarah. Momentum itu diintegrasikan dengan pembangunan sosial berkelanjutan melalui program Rumah Layak Huni yang terus bertambah setiap tahun.

Di Ploso, Jombang, doa dan sujud syukur massal digelar pada malam 9, 10, hingga 11 Ramadan. Namun pada saat yang sama, agenda sosial diperkuat. Spirit Ramadan dipadukan dengan kerja nyata yang menyentuh keluarga duafa di berbagai daerah.

Program tersebut dikenal sebagai RSKILHS—Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah. Rumah tipe 36 dibangun dengan biaya sekitar Rp70 juta hingga Rp85 juta per unit, dihimpun secara mandiri dari jamaah. Hingga 2025, tercatat 2.232 unit telah diserahterimakan.

Dalam konteks ini, kemerdekaan Ramadan tidak dipahami sebagai peringatan simbolik. Ia diarahkan menjadi energi kolektif untuk menghadirkan hunian yang lebih layak bagi masyarakat rentan.

Spiritualitas sebagai Fondasi Aksi Sosial


Ramadan dipandang sebagai bulan syukur. Nilai tersebut diterjemahkan dalam bentuk tanggung jawab sosial. Yang patut dicatat, pembangunan Rumah Layak Huni dilakukan konsisten setiap tahun, bukan proyek sesaat.

Sekretaris Jenderal DHIBRA Pusat, Khoirul Mudzakkir, menyebut pembangunan rumah sebagai “cara unik mensyukuri kemerdekaan,” yang diwujudkan dalam bangunan permanen. Pernyataan itu menegaskan bahwa rasa syukur diarahkan pada solusi konkret.

Dengan kata lain, spiritualitas menjadi fondasi keberlanjutan program. Partisipasi jamaah memastikan pembiayaan tetap berjalan tanpa ketergantungan eksternal.

Optimisme yang Tumbuh dari Konsistensi


Data 2.232 unit menunjukkan ritme pembangunan yang stabil hingga 2025. Rumah-rumah tersebut tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Di sisi lain, santunan kepada veteran, yatim piatu, dan kaum duafa juga disalurkan setiap Ramadan. Ribuan paket bantuan dibagikan sebagai bagian dari tasyakuran kemerdekaan Ramadan.

Integrasi antara ibadah dan pembangunan sosial ini membentuk optimisme kolektif. Rumah Layak Huni berdiri sebagai simbol bahwa kemerdekaan Ramadan dapat dirawat melalui program berkelanjutan yang terukur dan konsisten.