PancaMerdeka.com — Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi membuka perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Kamis (28/8/2026). Kehadiran Kepala Negara disambut hangat oleh Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar serta Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf di lokasi acara.
Prabowo menunjukkan keteladanan dengan membungkuk penuh hormat untuk menyalami Pengasuh Ponpes Al-Falah Ploso Kediri, KH Nurul Huda Djazuli, yang duduk di kursi roda.
Gestur kehangatan tersebut menjadi lambang penghormatan tertinggi pemerintah terhadap keteladanan kiai senior Nahdlatul Ulama. Dalam pidato pembukanya, Presiden menegaskan netralitas total pemerintah terhadap kepemimpinan PBNU periode 2026-2030 yang akan ditentukan dalam muktamar ini.
"Saya tidak mengatur ini semua. Saya juga tidak mengerti, tapi ya, kita menerima ini semua," ujar Presiden Prabowo Subianto di Jombang, Kamis (28/8/2026).
Jas Hijau dan Penghormatan Sejarah
Presiden Prabowo mencetuskan istilah Jas Hijau atau Jangan Sekali-kali Melupakan Jasa Ulama sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan sejarah bangsa. Menurutnya, kemerdekaan Indonesia yang diuji dalam Pertempuran Surabaya tidak lepas dari peran aktif serta mobilisasi kiai dan pesantren.
Kolaborasi Kebangsaan untuk Masa Depan
Pemerintah optimistis bahwa sinergi erat antara umaro, NU, dan Muhammadiyah menjadi kunci utama stabilitas serta kemajuan nasional. Kehadiran NU terbukti selalu menjadi penentu kedamaian dalam setiap fase krisis perjalanan sejarah Indonesia.
Prabowo juga mengapresiasi lagu Syubbanul Wathon yang diciptakan KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai bukti komitmen kebangsaan Nahdliyyin. Ajang muktamar ini diharapkan melahirkan kepemimpinan kokoh yang siap mengawal kemandirian bangsa dan merawat nilai toleransi.
Ia juga sempat bergurau menagih kartu anggota NU kepada Ketum PBNU sebelum penutupan acara pada Senin (31/8/2026). Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk terus mendukung penguatan lembaga pendidikan serta pesantren di seluruh pelosok Nusantara.
Langkah ini diyakini memperkokoh fondasi kebangsaan dalam menghadapi tantangan global yang makin kompleks. ***