pancamerdeka.com — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghadirkan momentum kebudayaan yang penuh wibawa dengan mengarak Mahkota Binokasih menggunakan kereta kencana sepanjang Mei 2026. Langkah inspiratif ini menggantikan penggunaan mobil Jeep pada tahun-tahun sebelumnya, demi memuliakan kembali nilai-nilai luhur kepemimpinan Sunda.
Rangkaian Kirab Budaya "Napak Tilas Padjadjaran" ini berjalan sukses selama 17 hari berdasarkan payung hukum Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 13 Tahun 2026. Kehadiran mahkota bersejarah ini berhasil memikat hati masyarakat sekaligus menyatukan keragaman seni dari 27 kabupaten dan kota se-Jawa Barat.
Kehangatan Pemimpin di Tengah Lautan Rakyat
Keputusan untuk melepas kendaraan modern dan memilih pendekatan kultural yang anggun terbukti mempererat ikatan emosional antara pemerintah dan masyarakat jelata. Di setiap kota yang dilintasi, ribuan warga menyambut antusias arak-arakan yang menjadi simbol persatuan dan kebangkitan identitas daerah ini.
"Mulai tahun ini Mahkota Binokasih diarak, bukan lagi pakai mobil Jeep, tetapi dengan acara kebudayaan yang berasal dari nilai leluhur kita, dibawa keliling Jabar," tutur Dedi Mulyadi penuh optimisme.
Ketulusan kepemimpinan ini terlihat nyata di lapangan saat KDM memilih turun langsung menyapa lansia dan mendengarkan aspirasi warga sebelum memimpin pasukan kirab. Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, memberikan apresiasi mendalam terhadap pendekatan humanis yang dibawa dalam pergelaran akbar ini.
"Pembangunan di kawasan tidak hanya bertumpu pada kemajuan fisik dan ekonomi, tetapi juga harus dibangun atas dasar nilai kasih sayang, kebersamaan dan persatuan," puji Aep Syaepuloh pada Sabtu, 9 Mei 2026.
Kemeriahan kirab yang melibatkan 10.000 peserta ini terbukti memberikan dampak ekonomi langsung yang menggembirakan bagi para pelaku usaha mikro di daerah. Okupansi hotel meningkat tajam dan ratusan UMKM baru bermunculan di sekitar lokasi acara, membawa berkah kesejahteraan bagi masyarakat luas.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga memanfaatkan momentum indah ini untuk mempercantik tata kota dan mengalokasikan Rp9 miliar untuk perbaikan Museum Pajajaran. "Penataan jalan, trotoar, lampu serta tamannya, agar Pak Wali Kota fokus penataan kelurahan-kelurahan. Nanti namanya Palataran Binokasih," jelas Dedi Mulyadi.
Semangat kebersamaan yang terpancar sepanjang rute kirab dari Sumedang hingga Gedung Sate menunjukkan bahwa masa depan Jawa Barat dibangun di atas fondasi budaya yang kuat. Perayaan ini menegaskan bahwa kemajuan daerah akan berjalan beriringan dengan kelestarian tradisi yang dihormati secara elegan. ***