Bisnis

IHSG Anjlok 8,01 Persen, Bursa Langsung Kena Trading Halt Saat Dibuka

Gedung BEI
Gedung BEI

IHSG anjlok 8,01 persen ke level 5.393,92 pada pembukaan perdagangan Jumat (16/10/2026), memicu trading halt begitu sesi I dimulai. Indeks langsung tersungkur ke titik terendah hari ini, di tengah sentimen negatif dari rencana MSCI menurunkan status pasar saham Indonesia, lonjakan harga produsen Amerika Serikat, dan serangan di Yaman.

Penurunan 469,86 poin itu dihitung dari penutupan Kamis di 5.863,78. Saat IHSG anjlok, volume transaksi tercatat 53,6 juta lot dengan nilai Rp922,33 miliar.

IHSG Anjlok di Tengah Ancaman Penurunan Status dari MSCI

Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi untuk mengubah status pasar saham Indonesia dari Emerging Market (pasar berkembang) menjadi Standalone Market (pasar mandiri). Keputusan final paling lambat diumumkan 30 Juni 2027.

Tiga hal disorot MSCI: transparansi kepemilikan saham, dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, dan efektivitas penegakan aturan. Regulator memang sudah mengumumkan sejumlah reformasi. Namun, menurut penilaian MSCI, kemajuannya belum memadai dan belum konsisten.

Selama konsultasi berjalan, MSCI membekukan sejumlah perubahan indeks saham Indonesia. Mereka tidak akan menaikkan Foreign Inclusion Factor (FIF) maupun Number of Shares (NOS), tidak menambah saham ke MSCI Indonesia Investable Market Index, dan tidak menaikkan saham ke segmen dengan kapitalisasi lebih besar. Pelaku pasar bisa menyampaikan tanggapan hingga 30 April 2027, dan rencana reklasifikasi dapat ditinjau kembali bila ada bukti perbaikan material pada tata kelola dan fungsi pasar.

Rudal dan Drone Houthi Hantam Istana di Aden

Kamis (15/10/2026), kelompok Houthi menembakkan rudal dan drone ke kompleks Istana Presiden Al-Maashiq di Kota Aden, Yaman. Lima orang tewas dan 16 lainnya luka-luka. Pemerintah Yaman menyatakan perdana menteri beserta sejumlah anggota kabinet selamat, sedangkan Houthi mengklaim sasaran mereka adalah markas operasi militer Arab Saudi di kota itu.

Harga Produsen AS Jauh Melampaui Perkiraan

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) September 2026 naik 1,3 persen secara bulanan. Itu kenaikan tertinggi sejak Maret 2022, jauh di atas ekspektasi pasar yang hanya 0,5 persen. Secara tahunan, PPI naik 6,3 persen, tertinggi sejak Desember 2022.

Tekanan merembet ke sektor jasa. Harga jasa produsen naik 0,8 persen, biaya angkut barang lewat jalan raya 3,8 persen, dan tarif penerbangan melonjak 5 persen.

Pasar Kerja AS Masih Kokoh

Klaim awal tunjangan pengangguran pada pekan yang berakhir 10 Oktober 2026 naik 1.000 menjadi 199.000, sedikit di bawah perkiraan pasar sebesar 200.000. Klaim berkelanjutan (continuing claims) turun 4.000 menjadi 1,71 juta, masih dekat dengan level terendah dalam lebih dari tiga tahun yang tercatat dua pekan sebelumnya. Federal Reserve (The Fed) sendiri menilai kondisi ketenagakerjaan berada di sekitar tingkat kesempatan kerja penuh.

Menanti Suara Kevin Warsh dari Bangkok

Dari dalam negeri, rumor reshuffle ikut menjadi penggerak pasar hari ini. Di luar negeri, mata pelaku pasar tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh, yang bisa menggeser ekspektasi kebijakan moneter, dolar AS, imbal hasil US Treasury, dan harga emas. Sinyal The Fed yang lebih ketat berpotensi menekan rupiah dan memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, sementara sinyal yang lebih lunak dapat mendukung aset berisiko.

Warsh dijadwalkan berdiskusi dengan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dalam sesi fireside chat pada pukul 10.30 WIB, di sela pertemuan IMF-World Bank di Bangkok, Thailand. Pelaku pasar berharap sesi itu memberi petunjuk soal prospek ekonomi global, tekanan inflasi, arah suku bunga AS, dan risiko utang dunia.