Bisnis

Inflasi Amerika Tembus 3,7%, Peluang The Fed Naikkan Suku Bunga Naik

Gedung Marriner S. Eccles milik Federal Reserve System, Washington D.C., Amerika Serikat
Gedung Marriner S. Eccles milik Federal Reserve System, Washington D.C., Amerika Serikat

Inflasi Amerika Serikat (AS) meningkat menjadi 3,7% secara tahunan pada September 2026, dipicu lonjakan harga energi, terutama bensin yang naik 9,1%. Data tersebut mendorong pasar keuangan menaikkan perkiraan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan 27–28 Oktober menjadi 37%, dari sebelumnya 22%.

Mengutip Reuters, Kamis (15/10/2026), Indeks Harga Konsumen (IHK) AS naik 0,6% secara bulanan pada September, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,4% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi juga meningkat dari 3,4% menjadi 3,7%.

Kenaikan harga energi menjadi pendorong utama tekanan inflasi tersebut. Lonjakan harga bensin menyumbang lebih dari separuh kenaikan bulanan IHK, menurut laporan Departemen Tenaga Kerja AS.

Harga Bensin dan Diesel Melonjak

Harga bensin meningkat 9,1% pada September, sedangkan harga bahan bakar motor lainnya, termasuk diesel, naik 11,9% secara bulanan dan 60,9% secara tahunan hingga mencapai rekor tertinggi.

Reuters mengaitkan lonjakan harga energi dengan perang AS-Israel melawan Iran. Kenaikan biaya bahan bakar dapat menambah tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga sekaligus meningkatkan biaya operasional bisnis dan transportasi.

Tekanan inflasi tidak hanya berasal dari energi. IHK inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, naik 0,3% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan pada September, dibandingkan 2,4% pada Agustus.

Biaya tempat tinggal naik 0,4%, sewa setara pemilik rumah meningkat 0,3%, dan tarif penerbangan bertambah 1,2%. Harga jasa secara keseluruhan juga naik 0,4%, menunjukkan bahwa tekanan harga masih meluas ke sejumlah sektor di luar energi.

Pasar Mengubah Perkiraan Suku Bunga The Fed

Setelah data inflasi dirilis, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 27–28 Oktober diperkirakan pasar mencapai 37%, naik dari 22% sebelum pengumuman. Perubahan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran bahwa tekanan harga dapat menyulitkan upaya bank sentral mengendalikan inflasi.

Meski demikian, mayoritas ekonom masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada Oktober dan baru menaikkannya pada Desember. Pada September, bank sentral AS tersebut telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00%.

Suku bunga menjadi salah satu instrumen utama The Fed untuk mengendalikan inflasi. Kenaikan suku bunga dapat menekan permintaan melalui peningkatan biaya pinjaman, tetapi juga berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi.

Karena itu, angka inflasi September belum otomatis memastikan kenaikan suku bunga pada Oktober. Keputusan The Fed tetap bergantung pada penilaian terhadap keseluruhan data ekonomi dan prospek inflasi.

Harga Pangan Relatif Stabil, Daya Beli Tetap Tertekan

Berbeda dengan energi, harga makanan secara keseluruhan tidak berubah pada September. Harga bahan makanan yang dijual di toko turun 0,1%, didorong penurunan harga daging sapi sebesar 1%, produk susu 0,9%, dan telur 1,3%.

Namun, sejumlah komoditas justru mengalami kenaikan. Harga minuman nonalkohol meningkat 0,9%, sedangkan buah dan sayuran naik 0,5%; harga selada bahkan melonjak 3,9%. Secara tahunan, harga bahan makanan tercatat meningkat 1,8%.

Tekanan biaya hidup juga terlihat dari pendapatan rata-rata per jam seluruh karyawan yang turun 0,7% secara tahunan pada September, setelah turun 0,3% pada Agustus. Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga energi berlangsung bersamaan dengan pelemahan pendapatan riil pekerja.

Kepala Ekonom AS di AllianceBernstein, Eric Winograd, menilai tekanan biaya energi masih menjadi persoalan yang sulit mereda dalam waktu dekat. Ia juga menyoroti ketertinggalan kelompok masyarakat berpendapatan lebih rendah di tengah tekanan ekonomi.

Estimasi Inflasi PCE Inti Ikut Menjadi Perhatian

Data IHK September turut menjadi dasar bagi ekonom untuk memperkirakan pergerakan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed. Berdasarkan data tersebut, estimasi inflasi PCE inti diperkirakan berada pada kisaran 0,3%–0,4% secara bulanan dan sekitar 3,1% secara tahunan.

Angka tersebut masih berada di atas target inflasi The Fed sebesar 2%. Namun, estimasi PCE itu bukan angka resmi yang telah dirilis, sehingga perkembangan selanjutnya tetap perlu dicermati.

Kepala Ekonom RSM, Joseph Brusuelas, menilai pendorong utama inflasi saat ini berkaitan dengan kebijakan dari sisi pasokan, yang menurutnya lebih tepat ditangani melalui kebijakan fiskal. Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut membuat upaya memulihkan stabilitas harga menjadi tantangan bagi The Fed.