Ragam

Saat Dunia Merawat Uwi, Indonesia Melupakannya

Saat Dunia Merawat Uwi, Indonesia Melupakannya

pancamerdeka.com—Uwi pernah menjadi bagian penting pola makan masyarakat Nusantara. Umbi ini tumbuh subur di tanah Jawa dan tercatat dalam sejarah perdagangan pangan Asia. Namun hari ini, peran itu justru bergeser ke negara lain.

Sejarah menunjukkan uwi diperdagangkan sejak era Dinasti Liao hingga Dinasti Ming di China. Jalur Selat Malaka menjadi penghubung utama distribusi komoditas ini, menandai posisinya sebagai pangan strategis kawasan.

Di Indonesia, perubahan pola konsumsi ke beras membuat uwi tersingkir. Budidaya berkurang, pengetahuan lokal memudar, dan tanaman ini perlahan menghilang dari sistem pangan.

Warisan yang Dirawat


China, khususnya Provinsi Yunnan, mempertahankan uwi sebagai bagian penting pertanian. Budidaya dilakukan lintas generasi dengan teknik khusus untuk menjaga kualitas umbi. Panen diatur berdasarkan usia tanaman guna menjaga produktivitas.

Pendekatan ini menunjukkan kesinambungan antara tradisi dan pengelolaan modern.

Tantangan Konsumsi Nasional


Ketergantungan Indonesia pada beras dan gandum kian menguat. Data FAO mencatat impor gandum Indonesia mencapai 6,2 juta ton pada 2012. Ketergantungan ini menyempitkan ruang pangan lokal.

Sementara itu, diversifikasi pangan berbasis umbi belum menjadi arus utama kebijakan.

Pelajaran dari Dunia


Nigeria memanfaatkan uwi sebagai penyangga pangan nasional. Produksinya tercatat tertinggi di dunia. Jepang, Taiwan, dan Filipina mengembangkan uwi sebagai bahan pangan dan produk bernilai tambah.

Indonesia sejatinya memiliki modal hayati yang sama. Keragaman spesies uwi tersedia, namun belum terintegrasi dalam kebijakan pangan jangka panjang.

Ketika negara lain merawat pangan tradisionalnya, Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk kembali mengenali dan mengelola warisan pangannya sendiri.***