Hiburan

Teater Cara Menjadi Sederhana Gugah Kesadaran Eksistensial Manusia Modern

Pagelaran Teater dari Ngaos Art, membawakan Cara Menjadi Sederhana
Pagelaran Teater dari Ngaos Art, membawakan Cara Menjadi Sederhana

PancaMerdeka.com — Pagelaran teater berjudul "Cara Menjadi Sederhana" sukses memukau penonton dalam agenda apresiasi seni di Ngaos Art Tasikmalaya pada 21 Agustus 2026. Pementasan berdurasi intens ini menyajikan narasi gugatan eksistensial mengenai keberanian manusia modern dalam mengambil keputusan hidup tanpa perlu terus bergantung pada prosedur luar.

Melampaui Logika Absurditas Tubuh

Pertunjukan karya komedi absurd ini menampilkan tiga tokoh utama yaitu Mimi, Kido, dan Miqdam yang terjebak dalam dilema prosedural saat hendak menyantap hidangan. Kritikus teater Dr. Rahman Sabur menilai bahwa karya ini berhasil menghadirkan absurditas sebagai epistemologi tubuh manusia yang patuh pada kelembagaan.

“Absurditas dalam Cara Menjadi Sederhana bekerja sebagai epistemologi tubuh. Slobodon dan Anteh bukan manusia yang kehilangan akal, tetapi manusia yang terlalu patuh kepada akal yang telah dilembagakan.” ujar Rahman Sabur pada 21 Agustus 2026.

Akademisi seni Arif, S.Pd., M.Sn., menambahkan bahwa kesederhanaan dalam naskah ini merupakan gambaran problem eksistensial masyarakat modern.

“Kesederhanaan di dalam karya ini bukan kategori estetika, melainkan problem eksistensial.” ungkap Arif pada 21 Agustus 2026. Praktisi teater Wit Jabo menyuarakan hal senada terkait keberadaan objek imaterial yang mengendalikan tubuh aktor di atas panggung pementasan. “Sendok itu tidak ada, tetapi seluruh perilaku tokoh ditentukan oleh ketidakhadirannya.” tutur Wit Jabo pada 21 Agustus 2026.

Pagelaran Teater 3.webp (42 KB)

Simbolisme Nasionalisme dan Ekosistem Kebudayaan

Refleksi mendalam turut disampaikan oleh Moa Aziz yang membaca dinamika pertunjukan sebagai cermin kebiasaan masyarakat dalam menunda masa depan.

“Kita semua memiliki sendok yang kita tunggu. Kita mengatakan akan hidup setelah sukses, setelah diakui, setelah keadaan membaik.” jelas Moa Aziz pada 21 Agustus 2026. Aris Sehat Tentrem menegaskan bahwa gagasan kebangsaan dalam pementasan ini hadir melalui etika keberanian serta otonomi tindakan.

“Nasionalisme dalam karya ini hadir sebagai etika keberanian.” kata Aris Sehat Tentrem pada 21 Agustus 2026. Karya kebanggaan asal Tasikmalaya ini dijadwalkan tampil memukau dalam Festival Teater Dosen Indonesia 2026 di ISI Yogyakarta pada 26–28 Agustus 2026.

Kehadiran karya ini membuktikan potensi artistik daerah yang mampu memberi inspirasi serta menggugah kesadaran masyarakat di tingkat nasional. ***